Sharon Kihara, Bintang paling Bersinar di Belly Dance Festival
Nusa Dua (28/2/10)
Ada bintang paling dicari dalam pentas akbar Festival Tari Perut Asia. Dialah Sharon Kihara,instruktur tari perut dari Amerika.
Cantik, tinggi semampai, murah senyum, lincah dan tubuh gemulai. Tapi ada yang lain dari yang lain. Kulit halus Sharon separoh badan penuh tato. Tangan kanan seluruhnya penuh lukisan jarum panas. Juga tato tribal dipunggungnya, mirip seperti lukisan suku suku India, Afrika atau Aborigin. Belum lagi beberapa tindikan yang menghiasi telinga dan hidung menam bahkesan eksotis dan liar. Plus perutnya yang padat dan tipis tergambar sepasang burung merak.
Yang menarik adalah gambar burung ini. Dari daerah perut yang memang selalu terbuka hanya terlihat kepala dan lehernya doang. Orang jadi penasaran bagaimana gambar utuh sepasang burung yang sem estinya saling berhadapan hingga ke bawah pusar dan pangkal paha. Dan inilah yang selalu menjadi bisik-bisik hampir semua awak-awak media yang meliput tiap workshopnya.
Tapi daya tarik Sharon ternyata bukan hanya pada kecantikan dan tato sepasang burung merak ini.
Sebagai instruktur tari perut, kelas yang dia buka selama Festival selalu disesaki peminat. Ballroom Ayodya Resort yang cukup besar sepertinya tidak cukup menampung murid-murid yang antri dan dengan senang hati mengikuti lenggak lenggok tegas namun gemulai wanita berkulit “bersih” ini.
Memang Sharon bukan hanya menarik karena tampilan fisiknya saja. Style tarian standard yang dia miliki berbeda dengan instruktur lain.
Sharon memiliki ciri khas dalam choreography, gerakan dan music pengiring, sebuah aliran yang dia sendiri menyebutnya sebagai aliran tribal. Liar, asli dan tak tersentuh budaya modern. Inilah yang menjadi trade marknya.
“Aku udah belajar menari perut sejak usia 12 tahun. Sebelum “terbelenggu” dengan tari perut, sebenarnya aku udah belajar segala macam tari. Balet, khususnya, sudah aku pelajari sejak usia 8 tahun,” aku Sharon.
“Dekade tahun 1980-1990an tidak mudah mencariguru tari perut di Amerika. Saat itu budaya belly dance belum menjadi demam pulik seperti sekarang ini. Apalagi untuk seorang anak kecil sepertiku, jelas tidak mudah pergi jauh mencari guru.
“Tapi itu tidak menghalangiku,” ujar Sharon. Terdorong oleh keinginan yang membara, Sharon muda rela melanglang buana ke segala penjuru mencari-cari guru terbaik. Petualangannya terbayar. Sharon berhasil mengadopsi gaya tari unik dan lain dari pada yang lain. Wajar jika murid-m ridnya selalu antri dan para penonton dibuat terkesima oleh aura tribal, layaknya seorang gadis gunung yang cantik namun liar, tak tersentuh peradaban modern.
Dengan gaya tribalnya Sharon memberikan nuansa lain dalam gemulainya tarian perut yang diajarkan disetiap workshop. Tak hanya penampilannya yang eksotis,koreografi dan musiknya pun sangat asing. Workshop hari pertama berjudul “Bagaimana menari dan mengunyah kaca. ”Hari ini (28/2/10) workshopnya berjudul “Selamat datang di dunia Suku”. Musiknya terdengar seperti musik-musik suku Indian dan suku-suku pedalaman lainnya, mengingatkan kita pada film Avatar yang fenomenal (mungkin film avatar terinspirasi oleh gaya Sharon? Siapa yang tahu…). Musik yang ditampilkan mem bawa kita ke dunia fantasi dimana kita hidup bersama suku-suku pedalaman.
Disinilah kehebatan Sharon memadukan tarian dan musiknya menjadi sebuah tribal style yang sangat diminati peserta setiap workshopnya.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Supardi (08123830130)
Winda


