Delapan ribu PSK di Bali, 15% positif HIV

Dari diskusi di Asian Belly Dance Festival 2010

Hingga saat ini tercatat 8.000 orang PSK di Bali dan 15% diantaranya positif HIV, demikian data yang dikumpulkan oleh Rumah Harapan, sebuah yayasan untuk membantu wanita pekerja seks komersial (PSK) mewujudkan keinginan mereka keluar dari dunia kegelapan dan mendapat kesempatan untuk menikmati kehidupan yang lebih baik dan sehat.

Angka angka tersebut mengemuka dalam talkshow yang digelar pada Asian Belly Dance Festival bertajuk House of Hope, sebuah rumah harapan.

Menurut Arimbi, pendiri Rumah Harapan, angka 8.000 PSK aktif merupakan puncak gunung es yang terlihat dan tercatat.

“Jumlah 8.000 itu yang terdeteksi, belum lagi PSK liar di jalanan seperti Seminyak, Kuta, dan kafe remang-remang yang lain di penjuru Bali. Sejauh ini, PSK yang mendapatkan konseling dari Rumah Harapan baru mencakup kawasan Sanur,” demikian ungkap Arimbi.

Arimbi menuturkan bahwa Rumah Harapan memberikan konseling dengan cara melakukan pendekatan-pendekatan langsung kepada para PSK. “Awalnya saya dikira dokter karena pakai baju putih dan membawa laptop,”

“Saya belikan mereka bakso, merokok seperti mereka dan minum sprite” tuturnya. Dari sana Arimbi mulai melakukan pendekatan pribadi dan mengorek fakta-fakta mengenaskan yang jarang diketahui publik. Berdasarkan penuturan Arimbi, seorang PSK biasanya melayani 5 sampai 15 pria perhari, bahkan di tahun baru mereka harusmelayani 30 orangpria dengan bayaran Rp. 50.000,00 tiap pelayanan.

“Dari angka tersebut biasanya Rp. 20.000,00 harusdiserahkan kepada mucikarinya. Kebanyakan dari PSK ini beroperasi di kafe-kafe lokal atau yang lebih dikenal dengan istilah kafe remang-remang.

Ibu Arimbi menyatakan bahwa para PSK ini sangat rentan terjangkit virus HIV karena para pria yang memanfaatkan jasa mereka sebagian besar tidak memakai kondom. “Sebagian besar penularan berasal dari pria-pria pelayaran dari daerah timur seperti Papua dan Flores yang bersandar di Bali, dimana mereka akan mencari para PSK ini. Adapun penyebaran melalui orang asing hanya 1% saja karena w arga asing ini biasanya sadar untuk menggunakan kondom.”

Sementara menurut Hasta Sanders, Direktur Exekutive Rumah Harapan, banyaknya jumlah PSK di Bali khususnya di Sanur tidak terlepas dari adanya mafia yang turut menjerumuskan wanita-wanita ini. “Sungguh sangat perih rasanya memasuki dunia muram wanita-wanita ini. Mereka menjadi PSK tidak karena kemauan, lebih karena keadaan.

“Yang lebih miris lagi, saat ada PSK yang mengidap HIV, pengidap dan konselornya merahasiakan hal ini, bahkan germonya sekalipun. H al ini dilakukan karena alasan bisnis, sebab jika sampai ada yang tahu bahwa di tempat itu ada PSK terinfeksi HIV, tentu saja mengurangi minat pelanggan!”

Menurut Arimbi, sebagian besar PSK tidak berani untuk keluar dari dunia prostitusi karena mereka tidak berani menghadapi hidup. Dimana mereka minder dan takut tidak diterima di masyarakat jika harus mencari pekerjaan lain. Ini terbukti dari 320 orang yang mendapatkan konseling Rumah Harapan, baru beberapa yang bisa benar-benar keluar dari dunia gelap. Salah satunya adalah Rani. Dengan bantuan Rumah Harapan, kini Rani telah memiliki usaha sendiri yaitu menjual jamu di kiosnya sendiri.

Rani yang juga hadir dalam workshop kemarin menuturkan bahwa dia membulatkan tekad untuk keluar dari dunia prostitusi dan mencari nahkah dengan cara yang halal.

“Awalnya bos saya meragukan niat saya, katanya saya tidak mungkin sukses kalau keluar. Tapi saya membulatkan tekad,dengan bantuan Rumah Harapan saya buktikan saya bisa. Meskipun harus sangat berhemat, kalau pulang jualan harus jalan kaki, tapi saya buktikan tidak hanya dengan melacur saya bisa dapat uang.” Tuturnya berlinang air mata.

Kini Rumah Harapan sedang merencanakan membangun training center di kawasan Sanur bagi para PSK untuk memberi keterampilan kepada mereka seperti keterampilan menjahit. Namun menurut Ibu Hasta, kendalanya adalah masalah lokasi karena training center harus dibangun dekat dengan lokasi prostitusi agar para PSK ini dapat mencuri-curi waktu.

“Masalahnya, jika mereka ketahuan punya usaha sampingan dan berencana keluar, mereka bisa dipukuli dan disiksa oleh mucikari dan mafianya. Untuk itulah Rumah Harapan memerlukan dukungan dari semua pihak untuk memecahkan masalah ini, demikian tutur Hasta.


Untuk info lebih lanjut hubungi:
Supardi Asmorobangun (0361)3129696/08123830130
Yulia Windayani 081805680030